Jumat, 04 Februari 2011

4 komentar

Jepang Negara yang Fleksibel atau Konservatif?

Jepang merupakan salah satu bahkan mungkin negara termaju di Asia. Jepang identik dengan kecanggihan teknologi, tetapi siapa yang tidak tahu bahwa pakaian tradisional Jepang adalah kimono? (tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan di pikiran saya, pakaian tradisional amerika itu apa). Mungkin juga, sebagian besar dari kita membayangkan sakura, kuil atau rumah tradisional mereka yang akrab dengan tatami dan pintu gesernya yang terbuat dari kayu. Kesan awal saya terhadap Jepang adalah negara yang maju namun tetap menjaga identitas mereka.

Saya mengenal jepang awalnya dari manga, anime atau dorama. Di kisah percintaan, sering kali mengambil setting waktu valentine atau christmast. Setelah menjalani hidup di sini pun, saya jadi mengetahui bagaimana orang Jepang sangat menyukai yang namanya "Party" yang merupakan tradisi barat. Sebagai perbandingan, teman-teman saya yang berasal dari cina juga tidak terbiasa dengan yang namanya party. Selain itu, saya juga mendengar dari teman saya bahwa tingkat free sex Jepang juga semakin meningkat. Teman saya yang menghadiri suatu pesta pun bercerita bahwa beberapa teman Jepangnya terlihat berciuman dengan orang yang seharusnya bukan pacarnya di suatu pesta. Dari situ, saya menilai bahwa Jepang terlalu mengadopsi budaya barat.

Kontras dengan hal tersebut, saya sangat mengalami kesulitan dengan komunikasi sejak saya awal datang 5 bulan lalu. Orang Jepang yang mengerti dan bisa berbahasa inggris relatif sangatlah kecil, bahkan untuk kata-kata ringan. Jika dibandingkan dengan orang Indonesia, saya melihat masyarakat saya lebih bisa mengerti bahasa inggris dibandingkan dengan mereka, setidaknya kaum mahasiswa cukup mengerti bahasa inggris. Saya memiliki tutor dengan keterbatasan bahasa inggris dan tebak, untuk bisa berkomunikasi dengannya, saya menggunakan BAHASA JEPANG. Padahal sebelum datang kemari, kemampuan bahasa Jepang saya 0 besar! mungkin untuk masalah bahasa ini, dikarenakan perbedaan huruf yang cukup signifikan dimana jepang menggunakan hiragana, katakana, dan kanji.

Selain itu, saya baru menyadari betapa kuatnya bargaining power jepang. Tidak ada sekolah internasional di sini seperti di Indonesia . Anak-anak asing masuk ke sekolah yang sama dengan anak-anak Jepang bisa atau tidak bisa bahasa jepang jika mereka ingin bersekolah. Mindset orang-orang jepang juga terbentuk untuk mematuhi hukum. Begitu hukum A ditetapkan, maka tidak ada masalah untuk hukum tersebut diterima di masyarakat, bisa dilihat contoh sukses hukum pembuangan sampah. Dalam presentasi-presentasi atau pun interview perusahaan yang dihadiri mahasiswa yang sedang dalam posisi mencari pekerjaan, mereka semua selalu mengenakan setelan jas maupun blazer hitam. Bukan karena kewajiban karena tidak ada persyaratan dari perusahaan tersebut, namun karena semua orang mengenakannya.

Saya jadi bingung apakah negara ini bersifat fleksibel atau konservatif. Saya cenderung menilai, mereka menerima segala sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyusahkan mereka. Namun, sepertinya trend mulai menunjukkan ke arah flexible dimana pengaruh luar begitu mudah diserap oleh generasi muda sekarang. Saya pribadi berharap Jepang tidak kehilangan identitas asianya di masa depan sehingga image saya terhadap jepang masih tetap sakura, kimono dan kuil.

Rabu, 12 Januari 2011

4 komentar

My best'thing'friends in Nagoya

1. Softbank no Keitai
I love softbank, ini kata-kata yang pernah saya utarakan di awal memiliki handphone ini. Sampai sekarang pun menurut saya, si putih model clamshell nan murah ini memiliki tempat teristimewa di hati saya. Handphone ini membuka komunikasi saya dengan sang kekasih hati dengan pushmailnya (^^;), rasanya jadi seperti seperti dia sering ada di sebelah saya jalan-jalan bareng v(^-^)

2. Biru-chan
Ipod Nano 8gb yang langsung saya panggil si biru imut kemudian berrevolusi menjadi biru-chan. Akhirnya setelah sejak setahun yang lalu impian saya punya ipod kandas oleh keusilan ayah saya yang saya mintai oleh-oleh ketika beliau bepergian ke singapura. Pulangnya sih beliau bawa ipod nano, tapi buat dirinya sendiri. Jelas aja si papah tidak mampu melepaskan ipodnya ke anak-anaknya. Suaranya memang mangstab. Untung saya punya duit sendiri dari beasiswa, jadi bisa beli tanpa rasa bersalah.

3. Internet kamar
Betapa menderitanya sebulan pertama saya di sini, waktu ngenet saya hanya sampai jam 10 malam waktu jepang atau jam 8 malam WIB di lobby residence. Belum lagi dinginnya malam yang menusuk ketika mencuri beberapa waktu numpang ngenet di luar lobby saat lobby sudah tutup. Biaya internet cukup mahal, 3000an yen per bulan. Untung saya sempat gigih mencari tetangga saya untuk share internet bareng. akhirnya, 3000 yen per bulan bisa menjadi untuk 4 bulan karena pemakaian di share untuk empat orang. Setelah punya internet, saya malah kalap,  mbojo sampe jam 2 malem, ooow X_x

4. Nokia E71
Nokia pinjaman, mudah-mudahan jadi pemberian karena saya dengar mamah sudah punya E72 sekarang, menjadi algojo yang membangunkan saya tidur untuk berangkat kuliah. Selain itu, sejak ada internet di kamar, saya jadi lebih leluasa untuk berinternet tanpa harus membuka laptop. Dia juga berjasa dalam menemani saya jalan ketika biru-chan belum ada serta penghubung dengan mamah dengan sms nomor simpatinya.

5. Panasonic Lumix DMC FX-66
Belum punya nama untuk si lumix ungu ini meskipun sudah disuruh sama sasa, sahabat saya. Saya beli di Jepun karena ayah saya itu yang mengatakan cukup dengan kamera hape saja. Tentu saja jauh lebih convenient memotret pake dia daripada dengan 3,2 MPnya E71. Sahabat hura-huranya di sini deh pokoknya b(^-^)d

Minggu, 02 Januari 2011

2 komentar

Waktunya Karaoke!

Tanggal 1 Januari 2011 yang lalu merupakan kali kedua saya karaoke di Jepang. Sebenarnya niat ingin mengulas tentang tempat karaoke ini sudah ada sejak kali pertama karaoke, tetapi  saat pertama kali, ada beberapa hal fatal yang tidak terjepret :p

Tempat karaoke di Jepang cukup menjamur karena merupakan salah satu tempat favorit untuk berkumpul bersama teman-teman melepas lelah. Tidak sulit menemukannya terutama di kota-kota besar seperti Nagoya.  Seperti tempat karaoke di Jogja,  begitu masuk, kita akan menemui meja resepsionis, counter, atau apalah namanya itu untuk pemesanan tempat. Kalau di Indonesia kita membayar ruangan (small, medium, large, family room, dsb) tapi di Jepang kita membayar diri sendiri. Jadi, dicharge per orang per jam, atau per orang untuk 7-8 jam tergantung paketnya. Seperti di Indonesia, Happy hournya siang hari.

Untuk pengalaman pertama saya, saya mencobanya di siang hari, dari jam 2 hingga jam 6 sore sedangkan untuk yang kedua, saya mengikuti pola biasanya teman-teman saya, menghabiskan malam di tempat karaoke. Kali itu, saya berkaraoke dari jam 11an malem hingga jam 5 pagi bersama dengan Mbak Vani, Mbak Rina, Mas Agro, Mas Rizki, dan Alvis.

meja receptionist

Yang khas di Jepang juga, sebagian besar tempat karaokenya nomihodai atau minum sepuasnya. Beberapa tempat ada yang harus membayar pisah dari karaoke untuk dapat nomihodai, ada juga yang sudah include dalam paket. Beberapa tempat juga menyediakan softcream.

drink bar

Bentuk ruangan karaoke, relatif sama lah yaa.... remang-remang cenderung ke gelap gitu dengan sofa, meja, serta layar tv. Layout sedikit berbeda, tapi menurut saya, ini tidak material karena tiap ruangan layoutnya beda-beda. Kebetulan yang saya tempatin berlayoutkan sofa di kanan kiri sisi ruangan.

salah satu ruangan di Joysound- Yagoto

salah satu ruangan di U-style Sakae

Yang berbeda jauh mungkin komputernya.Kalau di Happy Puppy, tempat saya biasa karaoke bersama teman-teman di Jogja, komputernya berupa komputer yang diletakkan di bawah atau dalam meja (hemm, saya tidak menemukan diksi yang tepat untuk ini). Sedangkan di sini, komputernya berbentuk khusus, touchscreen dan nirkable yang bisa dilihat di gambar berikut.

alat untuk pesan lagu

Sejauh yang saya tahu, untuk lagu ada Jepang, Barat serta Korea. Lagu bisa di cari baik melalui huruf hiragana atau alphabet, untungnya di alat itu ada menu bahasa inggris meskipun tidak semua menu tersedia, karena saya tidak bisa menemukan menu bahasa inggris untuk mengetahui urutan lagu yang sudah dipesan.
Untuk koleksi lagu, yaaa..... saya tidak bisa menemukan beberapa lagu yang ingin saya nyanyikan, tapi cukup banyak kok. Jadi tidak usah khawatir tidak bisa bernyanyi di sini kalo bukan lagu Jepang.

Setelah batas jam habis, kami membayar untuk jasa karaoke, nomihodai jika tidak termasuk dalam paket, serta makanan yang kami pesan (jelas laper lah, kalo kita mendem 7 jam sambil nyanyi-nyanyi). Waktu itu saya mengeluarkan duit hampir 2000yen lah secara keseluruhan. Agak mahal ya,, tapi rasanya bener-bener menyenangkan kok, puaaaaasss banget ;)

Oke, sekian dulu ulasan kali ini. Sampai jumpa lagi.

Senin, 27 Desember 2010

4 komentar

Main SKI!!!

Sejak Desember, Jepang memasuki musim dingin. Mungkin di mata beberapa orang, termasuk saya dahulu, musim dingin identik dengan salju. Tetapi ternyata tidak begitu. Musim dingin identik degan dingin ( ya iyalaaah! ) tapi tidak mesti salju turun. Termasuk di daerah yang saya tinggali selama 5 bulan ini, Nagoya. Hingga blog ini meluncur, salju belum turun dan saya dengar dari penduduk asli salju akan turun, tetapi tidak akan menumpuk atau langsung cair begitu sampai permukaan tanah. Untuk itu, jika ingin mengicip suatu olahraga yang namanya Ski dan atau Snowboarding, kita harus ke tempat khusus dimana salju menumpuk.

25 Desember yang lalu, saya mengikuti Wisata Salju yang diselenggarakan pihak PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Nagoya di Takasu Snow Park daerah Gifu. Total jumlah peserta saat itu sekitar 60an orang yang didalamnya berisi bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi, abg, anak-anak serta bayi. Berangkat dari Nagoya Daigaku jam 8 pagi dengan bis yang dicharter. Waktu normal sampai dari nagoya ke Takasu Snow Park adalah sekitar 2 jam, tetapi karena ada sedikit traffic jam, kami sampai pukul 11 siang. Kondisi cuaca di Takasu Snow Park seharian itu adalah hujan salju.

begitu sampai, duo Vani berfoto bersama
Begitu sampai, saya agak shock karena salju ternyata tidak sedingin yang saya kira. Salju itu putih bersih dan lembut (saya tau lembutnya karena saking penasarannya saya buka sarung tangan saya dan menggenggam salju, hehe #udik mode on#). Tapi yang saya kesal adalah sepatu yang saya pakai, saya pakai converse, licin sih tidak, tetapi karena bahannya kain, begitu masuk ke tempat hangat saljunya merembes ke dalam sepatu, hiiiiy dingin!!

Basecamp kami di tempat persewaan peralatan ski dan snowboard, di mana lantai duanya merupakan restoran. Saya kurang memperhatikan paket harga yang ditawarkan. Saya hanya ingat yang saya gunakan saja, yakni sewa ski dan sepatu set selama setengah hari 12 pm - 5 pm seharga 3500 Yen.



Setelah makan siang, sholat dan  menyewa peralatan ski tersebut, saya pun keluar gedung untuk mulai mencoba bermain ski. Untuk dapat meluncur, paling tidak saya harus berjalan menanjak sekitar 200 meter. Deket? itu udah ngos2an, papan ski dan sepatunya berat euy, hadeh -___-
Dengan Pak Bambang sebagai guru, beberapa orang mulai meluncur dan terjatuh-jatuh dalam percobaan pertama. Saya bagaimana? saya jatuh duluan sebelum meluncur, yakni pas memasang sepatu ke papan skinya, tapi pas luncuran pertama, saya tidak jatuh :p


berpose bersama mbak nunung sebelum meluncur
Teori bermain ski adalah bentuk segitiga pada papan dengan ujung depan sebagai puncaknya untuk pelan dan sejajarkan  papan untuk menambah kecepatan. Tongkat digunakan untuk mengendalikan ketika ingin belok, atau menjalankan papan ski ketika di tempat yang agak landai sebagai pendorong. Untuk berhenti, bentuk segitiga di papan serta belok kan arah. Saya mencoba latihannya dengan sekali jatuh karena khawatir akan menabrak seorang ibu yang sedang duduk bersama anaknya.

Setelah beberapa kali bolak-balik turun naik, Pak Bambang menawarkan untuk meluncur dari puncak yang berarti naik gondola ke atas. Dengan pertimbangan saya terlalu lelah untuk bolak balik turun naik, lalu tahun depan saya tidak akan bisa ikutan wisata salju lagi dan malah mungkin saya tidak punya kesempatan untuk meluncur lagi, saya sih langsung Oke. Akhirnya bersama dengan pak Bambang dan Mas Deddy kami beli tiket satu gondola 4000 yen untuk ke puncak. Saya tidak memotret Gondolanya karena kamera saat itu telah saya titipkan ke Mbak Vani, tapi bisa dibayangkan gondolanya seperti yang ada di TMII tapi dengan tempat duduk melingkar. 

Setelah sampai di atas, kami menelusuri track khusus beginner, sepanjang 3,100 meter yang dibagi menjadi 25 lap sebagai acuan kami meluncur. Pak Bambang menjaga saya dan mas Deddy yang baru pertama kali bermain ski. Jatuh bangun kami bermain hingga setelah 5 lap, kami memutuskan untuk mengakhirinya dan naik gondola untuk kembali pulang karena takut waktunya tidak sampai (jam 5 harus sudah kumpul, saat itu sudah jam setengah 4). Tapi nasib tidak berpihak,penjaganya bilang tidak boleh turun dengan gondolanya. Modelnya seperti yang di film-film cuma berbentuk bangku saja, jadi berbahaya. Terpaksa kami jatuh bangun lagi bermain ski dengan sesekali terpaan badai salju. Tapi, setelah setengah lap akhir, kami mulai jarang terjatuh kok. dan Voilla!! We make it! setengah 5 kami sampai lagi di tempat rental.

gondola yang tidak boleh kami naiki untuk turun dari puncak


jatuh bangun meluncur dari puncak terkadang diterpa salju dan angin
Overall, saya sangat suka pengalaman bermain ski ini. Saya merasa pilihan saya untuk mencoba meluncur dari atap sudah benar, puas rasanya! jam 5 bus beranjak meninggalkan Takasu Snowpark. Macet saat itu, tapi tampaknya para peserta bus tidak keberatan karena menikmatinya dengan berkaraoke ria. Saya memutuskan untuk tidur karena rasanya capek sekali. Tapi, benar-benar seru. Saya berharap, saya masih punya kesempatan untuk mencoba bermain ski lagi beberapa tahun ke depan, amiin.

saat perjalanan pulang mampir sebentar untuk menggunakan toilet, salju di daerah sini tidak begitu banyak, yang anehnya terasa lebih dingin dibandingkan dengan saat berada di Takasu Snow Park.

Sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya v(^o^)

Minggu, 26 Desember 2010

5 komentar

Jalan-jalan ke Osaka - 大阪の旅行 (23-24 Desember 2010)

Liburan musim dingin saya dimulai dengan trip ke Osaka bersama 4 orang teman lainnya: Ela, Shoko, Fabian dan Junpyo. Koordinator trip kali ini adalah Fabian, karena dia yang plan semua kegiatannya.

kota Osaka

Junpyo, Ela, dan Fabian (dari kiri ke kanan)
Junpyo, Shoko dan Fabian (dari depan ke belakang)

Kami pergi ke sana dengan tiket kereta khusus "Seishun 18 Kippu". Tiket ini merupakan tiket dengan harga spesial, 11,500 yen, untuk melakukan 5 hari atau 5 orang  perjalanan ke seluruh wilayah Jepang yang dilalui oleh JR line. Tiket semacam ini hanya dijual pada waktu-waktu tertentu saja. berikut informasi lebih jelasnya http://www.japan-guide.com/e/e2362.html

seishun 18 Kippu

Osaka terkenal dengan okonomiyaki dan Takoyaki-nya, yang tentunya masuk ke dalam "To Do List" kami. Selain itu, kami pergi ke daerah Namba, German Market, melihat iluminasi, Tsutenkaku, Spa World, serta sekilas kuil Shitennouji. Ah, ternyata saya kurang mengambil foto-fotonya, haha....

Namba
German Christmas Market

iluminasi menjelang natal

iluminasi menjelang natal

iluminasi menjelang natal

Gambar di atas sebagian besar adalah jepretan saat mengunjungi tempat dimana iluminasi dipasang. Iluminasi saya ambil dari kata teman saya, Ela, yakni illumination. Iluminasi yang dimaksud di sini adalah dekorasi lampu  yang dipasang sedemikian rupa sehingga menjadi objek yang sangat cantik. Iluminasi ini sifatnya temporari dan Osaka memasangnya dalam rangka merayakan Natal. Kesan saya terhadap iluminasi ini begitu dalam, begitu cantik, romantis, gemerlap, pokoknya wow deh... 

tsutenkaku tower, dari googling karena lupa ambil fotonya :'(  



Shitennouji temple

Akhir paragraf, saya akan memaparkan beberapa fakta yang saya temui di Osaka. Saat menggunakan eskalator, jika kita berkehendak untuk berdiri diam mengikuti jalannya eskalator, maka berdirilah di tepi sebelah kanan. Hal ini merupakan kebalikan dari aturan di Nagoya. Selain itu, saya juga merasa bahwa pemandangan kota di Osaka terlihat lebih tua dibandingkan dengan Nagoya. Di pusat perbelanjaan Namba, hampir semua penjual berteriak-teriak mempromosikan barang dagangannya. Makanan yang terkenal di Osaka adalah Okonomiyaki dan Takoyaki yang tentunya tidak kami lupakan untuk mencicipinya.

Takoyaki
Saya sangat menyadari blog kali ini begitu tidak lengkap. Saya terlalu asyik sendiri sehingga lupa akan kegiatan dokumentasi, tapi ya sudahlah.... yang jelas dua hari di Osaka sangat seru dan menyenangkan, benar-benar tidak layak untuk digantikan dengan satu kelas kuliah Legal & Ethics Business in Developing Country. Efek samping yang saya rasakan adalah saat itu merupakan moment yang sangat bagus dalam peningkatan kemampuan berbahasa Jepang karena memiliki teman seperjalanan yang orang jepang.

-いじょうです-


Senin, 29 November 2010

8 komentar

Pocket Camera Baru Saya--Panasonic DMC-FX66

Post ini saya tulis karena "paksaan" salah satu sahabat saya, sebut saja namanya sasa, melalui Yahoo Messenger, sampai-sampai saya dibuatkan outlinenya, hahaha...jadi, post ini ada berkat jasanya :p


Pikiran untuk membeli kamera di negeri Jepang telah merasuki pikiran saya sejak teman saya dari Jerman mengatakan "You just bought that *pointing at E71* for Japan? you better buy a new-cheap camera as soon as you get your scholarship", di awal bulan Oktober .

Ketika beasiswa saya dapatkan, mindset saya mulai berubah... Saya cenderung untuk lebih memilih menghabiskan duit untuk shopping dan jalan-jalan, kamera tidak terlalu saya butuhkan--begitu pikir saya dahulu. Namun, ketika saya jalan-jalan melihat sakura dan momiji (lihat post saya sebelumnya), saya iri dengan hasil jepretan teman saya, bagus sekali dibandingkan dengan jepretan E71 saya. Tapi keinginan itu pudar dalam beberapa hari karena keinginan untuk shopping dan traveling terlalu besar merasuk dalam otak saya.

H-1 membeli kamera, saya melakukan rutinitas harian,chatting dengan pacar saya, sebut saja namanya Seno. Topik pembicaraan saat itu mengalir ke kecewanya saya betapa sedikit foto yang saya miliki dengannya sebelum berangkat ke Jepang. Kemudian si pacar merespon dengan menawarkan akan berfoto bersama yang banyak setelah saya pulang nanti. Saat itu juga keinginan saya untuk membeli kamera di Jepang menjadi kuat lagi. Kali itu, tekad saya sudah bulat dan memutuskan untuk membeli kamera secepatnya sebelum berubah pikiran lagi, hahaa... nonsense kah alasan saya? hihihi..... Malem itu juga saya dengan giatnya bertanya-tanya dan browsing review dan harga kamera di internet.




Panasonic DMC-FX66 (gambar diambil dari Nokia E71)

Keesokannya, tepatnya tanggal 28 Oktober 2010, saya pergi dengan teman dari Jerman dan Thailand saya ke Osu Kannon. Karena ada pengajian WNI siang harinya, saya menyusul langsung ke lokasi saat sore. Harapan saya adalah setelah shopping bisa bersama mereka membeli kamera karena saya belum bisa berbahasa jepang dengan baik. Ternyata, di sana tidak hanya mereka berdua, teman Jerman saya membawa tiga orang Jepang lainnya, sehingga saya merasa tidak enak untuk mengajak mereka pergi bersama (T-T)

Akhirnya jam 7 saya berpisah dengan mereka, menuju ke Bic Camera, salah satu toko elektronik besar,SENDIRIAN!! saya sudah mencatat beberapa tipe kamera yang sesuai dengan budget dan baik menurut review. Incaran saya awalnya adalah Panasonic DMC-FP1 seharga 11,000 yen di internet. Tapi ketika sampai di sana, harganya ternyata 12ribuan Yen, saya lupa ratusannya. Kemudian saya bertanya kepada penjual, tentunya dengan bahasa jepang yang totally ngawur, mengenai mana yang lebih baik antara Panasonic tersebut dan Sony DSC-350 seharga 13,800 yen. Si penjual kemudian mengajak saya melihat Panasonic DMC-FX66 dimana penjualnya mengatakan bahwa Panasonic ini lebih tinggi levelnya dibandingkan dengan panasonic satunya, dengan harga sama dengan Sony yang telah disebutkan tapi dengan kualitas yang lebih baik. DMC-FX66 memiliki spesifikasi 14 megapixels, 5x zoom, serta memiliki jarak ambil yang lebih jauh dibandingkan dengan DMC-FP1, 12 megapixels dan 4x zoom. Itu kira-kira yang dikatakan penjualnya kepada saya.

Setelah berpikir beberapa menit bolak-balik dan mencoba mengambil foto antara DMC-FP1 dan DMC-FX66, saya memutuskan untuk membeli DMC-FX66. Saat itu mereka hanya memiliki 3 warna: silver, violet, dan biru muda. Saya tidak ingin warna general dan tidak begitu menyukai warna biru, sehingga saya memutuskan untuk mengambil violet, padahal saya berharap ada warna seperti merah, pink, kuning, atau hitam. Setelah itu, penjual menerangkan bahwa kamera hanya dalam bahasa Jepang (ToT) dan garansi 1 tahun pun hanya berlaku di seluruh Jepang saja. Yaa, secara saya beli di Jepang jelas itu lah konsekuensinya, haha... Saya beruntung masih memiliki voucher 1000yen dari teman saya karena ternyata masih harus membeli memory cardnya juga. Jadi, untuk total kamera, saya menghabiskan hampir 15,000yen yang memang batas atas budget saya membeli kamera.

Ja, ima camera o motteiru v(^o^)

taman di depan perpustakaan Nagoya Daigaku, taken with Panasonic DMC-FX66

Perpustakaan Nagoya Daigaku, taken with Panasonic DMC-FX66

Toyota Hall Nagoya Daigaku, taken with Panasonic DMC-FX66

Sabtu, 13 November 2010

7 komentar

When Momiji and Sakura Harmonized

Teman-teman mungkin sudah sering dengar sakura, bukan?
Ya, sakura adalah bunga yang terkenal di negeri matahari. Bunga sakura mekar di musim semi  dengan umur sekitar 1 atau 2 minggu. Nihon Jin (Orang-orang Jepang) biasanya melakukan yang namanya hanami, atau acara menikmati mekarnya bunga di waktu sakura mekar.
sumber: e-tomikura.co.jp

sumber: photo-blog.cocolog-nifty.com
 
Itu bentukannya sakura yang vani ambil dari blog orang. Maklum, vani gak ada di Jepang saat musim semi, jadinya harus googling bunga sakura dan pohon sakura :p

Itu sekilas tentang sakura yang vani yakin semua udah pada tahu, haha.... tapi apakah ada yang mengetahui tentang momiji? Vani pertama kali dengar momiji dari sebuah manga berjudul "fruits basket" nama seorang tokoh, tapi gak ada hubungannya dengan momiji yang mau vani ceritain di sini. Vani bertanya kepada Ela, teman vani dari Jerman, apa itu momiji. Dia menjawab bahwa momiji itu sebutan untuk pohon atau daun yang berubah menjadi merah di musim gugur, contoh kuatnya adalah maple. Bagi yang tidak tahu maple, bisa dibayangkan bentuk bendera canada :)
 

 
sumber: jepretan vani dengan e71, 3.2 megapixel, 13/11/10

Jadi, kesimpulannya jika menghubungkan antara musim dan tumbuhan, jika musim semi identik dengan sakura, maka musim gugur identik dengan momiji ^^
 
 
Vani di Jepang sampai dengan bulan Februari 2011, yang berarti vani tidak akan merasakan yang namanya musim semi Jepang. Vani sudah mengubur hasrat untuk melihat yang namanya bunga sakura. Tapi...... tanggal 12 November 2010, teman vani, Ela, mengirimkan sms yang bunyinya "we can see sakura and momiji" what the?!

sumber: Jepretan Vani dengan e71, 3.2 Mega pixel, 13/11/10

Akhirnya sabtu 13/11/10, Vani pergi ke suatu tempat yang vani tidak tahu namanya (sebenarnya vani ambil brosurnya, tapi nama tempatnya dari Kanji jadi ya tidak bisa baca) bersama dengan teman-teman asing vani lainnya. Dari Meidai Eki (Nagoya Daigaku subway station) sampai Toyota-shi dengan subway yang naik ke permukaan setelah stasiun Akaike menjadi kereta kemudian di lanjut dengan perjalanan bus sekitar satu jam karena letaknya yang di country-side. Bus berhenti di tempat yang bernama Kaminagi. Sakura di daerah tersebut ternyata memiliki tipikal yang berbunga setiap dua tahun sekali, maka dari itu kita bisa melakukan hanami sakura sekaligus momiji v(^-^)




 sumber: jepretan vani dengan e71, 3.2 Mega pixel, 13/11/10


Akhir kata, mohon maaf untuk begitu banyaknya foto di post kali ini, Vani tidak bisa menggambarkan keindahan paduan momiji dan sakura dengan kalimat sehingga akhirnya mencoba menshare apa yang vani lihat dengan mata kepala vani. Kiree desu yo... sungguh-sungguh berharap seandainya vani memiliki kamera yang lebih bagus untuk menangkap keindahan yang vani lihat. Tapi ya sudahlah, apa boleh buat.
Shitsuree shimasu ^^